Kesehatan

6 Warga Terserang DBD, BMI Buleleng Gelar Foging di Desa Patas

Quotation:

Dengan adanya foging dari Dokter Caput ini sangat membantu, terutama masyarakat yang awam ini. Kalau kita tidak dibantu (oleh Dr Caput), mereka (warga) itu kurang puas,” ucap Perbekel Desa Patas, Made Suparsa.

Patas, SINARTIMUR.com – Musim hujan baru mulai, namun penyakit musiman Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mengamuk, akibatnya sediktinya enam warga Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, sudah menjadi korban amukan DBD.

Penderitaan warga Desa Patas itu pun ditangkap oleh Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya dan mengkomunikasikan kepada Ketua BMI Kabupaten Buleleng DR dr Ketut Putra Sedana, Sp.OG, yang selama ini bergerak di bidang kesehatan dan kemanusiaan. Nah, setelah menerima informasi bahwa sekitar 6 orang warga Desa Patas menderita penyakit DBD, DR dr Ketut Putra Sedana, Sp.OG, yang juga Koordinator Relawan Ganjar-Mahfud Kabupaten Buleleng, langsung bergerak melawan amukan penyakit DBD di Desa Patas itu.

Maka Minggu (4/2/2024) pagi pasukan BMI Buleleng dan pasukan Relawan Ganjar-Mahfud dipimpin langsung Dokter Caput, sapaan akrab DR dr Ketut Putra Sedana, Sp.OG, langsung terjun ke Desa Patas “berperang” melawan DBD dengan melakukan foging.

“Yang memang kita dari BMI memiliki program yang sudah kita jalankan dari dulu, karena apa? Karena kita tahu bahwa salah satu penyakit yang menjadi momok di masyarakat, yang paling menakutkan adalah demam berdarah, dan demam berdarah ini adalah penyakit musiman,” ujar Dokter Caput usai aksi foging BMI di Desa Patas, Minggu (4/2/2024) pagi.

“Kita tahu bahwa cuacanya seperti sekarang ini di daerah-daerah pasti ada demam berdarah apalagi dalam pemeliharaan lingkungan yang kurang bagus. Ini jelas dampaknya adalah salah satunya adalah penyakit demam berdarah. Dan begitu pun dengan kondisi di wilayah ini begitu cepatnya. Ketua Fraksi PDIP Pak Ngurah Arya dan Perbekel disini menginformasikan, dan kita langsung menindaklanjuti untuk turun memberikan bantuan untuk foging sekaligus edukasi tentang masalah demam berdarah ini. Ini kegiatan kita BMI bersama relawan Ganjar-Mahfud dan Fraksi PDIP yang bersinergi untuk membantu masyarakat,” ungkap Dokter Caput.

 

Dokter Caput menjelaskan bahwa DBD adalah penyakit yang bisa dicegah. Maka itu, kata Dokter Caput yang juga Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng, sebelum dilakukan foging pihaknya bersama Fraksi PDIP Buleleng memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mencegah DBD melalui memelihara kebersihan lingkungan.

“Ini dari penyakit apapun adalah pencegahan. Demam berdarah ini sebenarnya bisa dicegah, pencegahan dengan pembersihan lingkungan. Makanya tadi kita bersama Fraksi PDIP, kita memberikan edukasi kepada masyarakat dengan kembali lagi dengan 3M itu. Bagaimana kita melihat tempat-tempat penampungan air untuk tetap selalu mengurasnya, menutup genangan-genangan air itu dan juga menabur benih, dan ketika sudah ada penderita, sinilah kita harus bergerak, bertindak untuk melakukan foging untuk membunuh nyamuk-nyamuk dewasa. Perawatan lingkungan, pemeliharaan lingkungan yang bersih tentunya akan dapat mencegah penyakit demam berdarah tersebut,” tandas Dokter Caput lagi.

Perbekel Patas, Made Suparsa, di tempat yang sama menceritakan, setelah menerima laporan bahwa ada beberapa warga yang mulai terserang penyakit DBD, dia melakukan koordinasi dengan bidan desa dan meminta bantuan ke Puskesmas untuk melakukan foging. Namun jawaban dari Puskesman bahwa alat foging di Puskesmas itu sudah rusak. Kemudian Perbekel Suparsa meminta bantuan kepada Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya dan kemudian dilakukan koordinasi dengan Dokter Caput dan Dokter Caput bersama tim BMI dan tim Relawan Ganjar-Mahfud bersedia turun ke Desa Patas.

“Pertama, tyang (saya, red) koordinasi dengan bidan desa, dan bidan desa melanjutkan ke Puskesmas. Tapi di Puskesmas alatnya rusak. Tyang (saya, red) minta bantuan ke Pak Ngurah Arya, akhirnya Pak Ngurah Arya menyambungkan ke Pak Dokter Caput,” cerita Peberkel Suparsa.

Perbekel Suparda menyebutkan bahwa hingga saat ini tercatat sedikitnya enam warga Desa Patas yang sudah terserang penyakit DBD. “Yang sudah terkena DB 6 orang, yang panas-panas banyak itu, takutnya bisa-bisa arahnya ke sana, ke DB. Yang 6 orang itu ada yang tua, ada yang anak-anak, ada yang sudah dewasa, semuanya dirawat di RS Santhi Graha Seririt, RS yang terdekat,” sebut Perbekel Suparsa lagi.

Bagaimana tanggapan anda tentang foging yang dilkukan Dokter Caput? “Dengan adanya foging dari Dokter Caput ini sangat membantu, terutama masyarakat yang awam ini. Kalau kita tidak dibantu (oleh Dr Caput), mereka (warga) itu kurang puas. Intinya itu kita di masyarakat saling menjaga kebersihan gitu,” jawab Perbekel Suparsa.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya, menyatakan bahwa sebagai anggota dewan dari Gerokgak dirinya memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat setempat termasuk masyarakat di Desa Patas, apabila mereka menghadapi persoalan seperti masalah kesehatan ini.

“Pertama, kita selalu komunikasi sebagai anggota DPRD Buleleng dari Kecamatan Gerokgak dengan masyarakat dimana saja. Teman-teman disini dari 2012 mendukung kita, kena (DB) langsung dan ada beberapa masyarakat kena DB. Karena lewat Puskesmas alat fogingnya rusak dan yang lainnya sulit kita komunikasikan, rasanya kami selaku Ketua Fraksi PDIP dan DR Caput Ketua BMI, komunikasi kami lebih cepat. Dan ini bukan masalah politik semata tapi masalah kesehatan yang terdepan, kita berbuat baik untuk masyarakat, yang penting masyarakat yang menilai sejauhmana kita berbuat dan apa dampak positifnya, dan itulah yang mungkin sampai saat ini dirasakan oleh masyarakat,” tandas Ngurah Arya yang juga Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng itu.

Terkait dengan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, Ngurah Arya menyatakan, “Kalau masalah kebersihan, kawasan yang agak dekat dengan pengunungan, ada kali (sungai) kadang di saat-saat hujan memang ada genangan-genangan air. Yang kedua, masyarakat disini kan banyak punya bak-bak penampungan air, terkadang kacatmata terlihat bersih, tetapi mengedukasi untuk masalah DB memang agak jarang tahu, sehingga tidak diisikan. Penyebab utama adalah genangan-genangan air.”

“Tapi kita mulai mencoba, tadi sama Dokter Caput mengedukasi masyarakat di sini agar baknya pun harus dibersihkan minimal ada ikannya,” pungkas Ngurah Arya.

Writer/Editor: Francelino

  Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button