AgamaBeritaDaerah

Dibenarkankah Merayakan Saraswati dan Banyu Pinaruh di Rumah Saja?

Denpasar, SINARTIMUR.com – Hari ini, Sabtu (28/8/2021) umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Suci Saraswati. Hari Suci Saraswati ini merupakan perayaan turunnya ilmu pengetahuan yang dirayakan tiap 6 bulan( 210 hari) sekali pada Hari Sabtu Umanis,wuku Watugunung.

Dalam situasi normal (tidak terjadi pandemi), perayaan Hari Suci Saraswati yang identik dengan perayaan hari suci untuk pelajar ini selalu membuat setiap instansi pendidikan,baik itu di sekolah maupun disetiap kampus dirayakan dengan meriah dan suka- cita oleh kaum penuntut ilmu.

Namun, bagaimana halnya dengan situasi pandemi saat ini? Cukupkah kita merayakan hanya di sanggah/merajan masing- masing saja? Bagaimana dengan keesokan harinya kita merayakan Hari Banyu Pinaruh yang biasanya kita pagi- pagi buta sudah menuju bejian, danau, laut, atau tempat mata air suci?

Untuk memberikan pencerahan tentang perayaan Hari Suci Saraswati di masa pandemic Covid-19 ini, media ini melakukan wawancara eksklusif dengan Kelian sekaligus Penglingsir Paiketan Semeton Gria Telaga Gelgel, Sanur, Ida Bagus Partama.

IB Partama menjelaskan, di saat pandemi ini harus bijak menyikapi perayaan setiap hari raya, termasuk dalam merayakan Hari Suci Saraswati ini. Apalagi saat ini pemerintah masih menerapkan PPKM.

“Seperti kita ketahui,Hari Suci Saraswati ini adalah hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia sehingga kita sebagai manusia bisa cerdas dan bijaksana dalam berprilaku, mampu memilah dan memilih mana yang baik, mana yang tidak baik, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis. Jadi, dalam situasi pandemi ini kita harus bisa serasi dan mampu menggunaka Wiweka (kebijaksanaan dan daya nalar) kita dalam merayakan dan melakukan persembahyangan Saraswati dengan cukup di Sanggah/ Merajan masing- masing,” jelas IB Partama.

Apa cara ini tidak mengurangi esensi perayaan itu sendiri? “Hal ini tidak akan mengurangi esensi dan makna dari upacara itu sendiri, karena yang terpenting dalam suatu upacara adalah melakukan dengan manah ning nirmala ( pikiran yang suci,tulus ikhlas dan tidak ternoda),” jawab IB Partama.

Ditambahkan juga, kalau dulu perayaan Saraswati dilakukan dengan tangkil (berkunjung) ke geria- geria, karena geria itu merupakan pusatnya sastra- sastra agama baik itu berupa lontar dan sebagainya. Namun karena perkembangan zaman, sehingga hanya sedikit yang ke geria saat Saraswati.

Ditanya mengenai Hari Banyu Pinaruh ,sehari setelah Hari Saraswati, yang pada umumnya umat pagi-pagi buta sudah menuju laut, danau, bejian, dan sumber mata air suci, mantan FB Manager di sebuah hotel di daerah Legian ini mengatakan bahwa dalam situasi seperti ini tidak harus melaksanakan Banyu Pinaruh di laut atau danau.

“Di rumah pun boleh kita melaksanakan Banyu Pinaruh, yang penting setelah mandi kita sembahyang lalu nunas Tirta Saraswati dari Sang Sulinggih. Dan perlu juga tyang tekankan, kalau kita mebanyu pinaruh di laut atau danau kita kan ngaturuning (mohon izin) kepada Dewa Baruna dengan menghaturkan canang seadanya,namun kalau kita di rumah,cukup menghaturkannya di Sanggah/ Merajan setelah mandi. Jadi bukan di kamar mandi kita menghaturkan canang karena secara etika hal itu tidak etis. Dan mengenai waktu yang tepat melaksanakan Banyu Pinaruh adalah pas matahari terbit, tapi tergantung juga situasi, tapi jangan lewat jam 9.00 pagi,” ungkap penglingsir asal Sanur ini. asa/frs/*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: