Politik

Pemilu 2024, Demer: “Anak Saya Tidak Disiapkan Tetapi Secara Alami Karena Lingkungan Politik”

Quotation:

Mereka tiap hari mendengar obrolan politik, mencermati barangkali, karena tiap hari dengar,habitnya dan cara pandangnya juga cara pandang politik. Apa yang saya maksudkan cara pandangan politik misalnya pemberdayaan masyarakat,” ucap Demer.

Singaraja, SINARTIMUR.com – Dalam tahun politik ini istilah “politik dinasti” menjadi tren di masyarakat. Asal bapak dan anak atau kakak beradik bersama-sama terjun ke politik praktis menjadi caleg baik dalam satu parpol atau beda parpol, public pun langsung memberikan cap “politik dinasti”.

Pun demikian dengan Gde Sumarjaya Linggih. Politisi senior Partai Golkar yang sudah 19 tahun menjadi anggota DPR RI yang berkantor di Senayana, Jakarta, menyadari akan kritik atau sindiran publik tersebut. Ini lantaran dua anaknya juga sama-sama terjun ke dunia politik menjadi caleg dan calon anggota DPD RI Dapil Bali.

Maka itu politisi asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, itu mencoba memberikan penjelasan tentang keterlibatan kedua anaknya dalam politik praktis sebagai calon legislative dan calon anggoat DPD RI.

“Saya sudah 19 tahun menjadi anggota DPR ini dari anak-anak saya masih kecil. Mungkin yang maju ke DPD itu masih umur 7 tahun, dan kemudian kakaknya itu mungkin umur sekitar 10 tahun, yang maju ke provinsi (Caleg DPR Bali, red). Jadi, mereka tiap hari mendengar obrolan politik, mencermati barangkali, karena tiap hari dengar,habitnya dan cara pandangnya juga cara pandang politik. Apa yang saya maksudkan cara pandangan politik misalnya pemberdayaan masyarakat, tentu lebih banyak ke sistem administrasi poublik, kemudian ekonomi makro, dan dalam politik inikan lebih banyak memberi ketibang menerima. Mungkin ini juga yang menjadi habit, menjadi kebiasaan dia selalu memberi, mampu menolong orang itu menjadi satu kebanggaan,” cerita Demer.

“Mungkin dari itu berkembang-berkembang, dan memiliki cara pandang yang jauh lebih melihat peluang. Dan mungkin juga kegalauan-kegalauan mungkin perlu perjuangan masyarakat yang belum tuntas atau belum maksimal dilakukan oleh lingkungannya. Sehingga dia menginginkan terjun ke dunia politik, karena mempunyai cara pandangan politik,” ungkap Demer lagi.

 

Secara jujur Demer mengakui bahwa awal yang khawatir terhadap keputusan kedua anaknya terjun ke dunia politik praktis. Namun setelah berkembang lebih jauh ternyata kedua anaknya memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni dan skil teknologi yang tinggi. “Dengan bergesernya teknologi ini, soal cerdas dan pandai kayaknya mereka yang lebih, karena secara Bahasa mereka yang lebih menguasai, dan dia sempat sekolah di luar negeri,”papar Demer yang dikenal salah satu vokalis Senayan ini.

Pun demikian, ungkap Demer, ada tiga hal yang belum dimiliki anak-anak itu dan perlu belajar lebih mendalam tiga hal yaitu emosi, bijaksana dan etika (sopan santun). “Namun memang yang perlu dipelajari anak-anak muda sekarang ini adalah soal emosi, soal bijaksana, soal sopan santun. Ini yang harus mereka belajar banyak dengan kita. Tetapi perkembangan soal UU, soal perkembangan teknologi, perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan baik itu science, engineering, mathematics, ya, saya yakin mereka lebih dari kita dan melampaui kita,” jelasnya.

Demer memgakui bahwa anak-anak tidak pernah dipersiapkan dan atau dididk untuk terjun ke dunia politik praktis tetapi mereka belajar secara alami karena lingkungan keluarganya yang memang politisi dan keterlibatkan dalam berbagai organisasi seperti HIPMI, wushu dan AMPI. ”Anak saya yang pertama memang lahir dari Rahim sekolah SMA Taruna Magelang yang sudah terbiasa dengan cara berpikir untuk menjadi pemimpin.

Diceritakan Demer, dirinya memang sengaja membiar anak yang kedua masuk ke dunia politik lewat jalur DPD dengan tujuan untuk belajar banyak dan sekaligus menemukan jati dirinya. ”Ini dia biar dulu di independen dulu, dia belaja, kalah menang bagi dia bukan menjadi tujuan, tapi bagaimana dia telah melakukan namanya berinteraksi, berkomunikasi secara politik dengan masyarakat. Itu yang paling penting bagi saya, dan bagaimana dia bisa melihat kondisi sebenarnya dari masyarakat kita, tatalaksana negara kita, pendewasaan akan terjadi pada dirinya,” papar Demer.

Bukan disiapkan? “Bukan disiapkan tetapi memang dia sendiri yang ingin karena lingkungan. Saya 19 tahun menjadi anggota DPRD, jadi mereka belajar dari sana karena setiap hari hanya mendengar obrolan politik,” jawabnya.

“Kalau respon public bagus sekali. Bahkan ada yang bilang kalau kita turun kalau pidato saya kalah sama anak saya katanya,” cerita Demer.(frs)

  Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button