BeritaPolitik

Pilpres 2024: Anies-AHY Bakal Jadi Dream Team

Jakarta, SINARTIMUR.com – Pasca NasDem secara resmi mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden 2024, negoisasi politik antara NasDem, Demokrat, dan PKS untuk menjaring calon pendamping Anies hingga kini masih alot.

Meski begitu, nama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki kans paling besar mendampingi Anies sebagai calon wakil presiden berdasarkan sejumlah indikator survei dan kalkulasi politik hari ini.

Meski peta kompetisi Pilpres dan komposisi bangunan koalisi hingga kini masih cair, tetapi ketiga partai itu, yakni Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS, bisa menjadi dream team 2024 untuk memenangkan pertarungan elektoral presiden. Setidaknya, komponen elementer soal ambang batas
pencalonan membuat ketiga partai itu harus saling bahu-membahu,
terlebih setelah Nasdem berhasil mengambil momentum meminang Anies sebagai calon presiden 2024. Sinyal kepastian pendamping Anies berpengaruh pada suara elektoral.

Pertanyaannya, siapa cocok mendampingi Anies? Berdasarkan variabel komposisi partai, hanya ada dua nama yang dianggap pas mendampingi Anies, yakni AHY dan Ahmad Heryawan (Aher). Sebagai mitra ko. Demokrat dan PKS tentu punya otoritas untuk mengusulkan kader terbaik mereka untuk dikawinkan dengan Anies.

Tetapi, AHY sedikit lebih unggul dalam beberapa aspek dibanding Aher.

Pertama, AHY akan mampu menjadi figur kompromi antar partai koalisi melalui capaian angka elektabilitas. Dukungan suara keterpilihan AHY berdasarkan sejumlah survei cukup tinggi ketimbang Aher.

Litbang Kompas, misalnya, menyebut AHY mendulang angka elektabilitas sebesar 6,6 persen sebagai Wakil Presiden. AHY ada di poisis kelima di bawah Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo.

Bahkan, posisi Partai Demokrat kian menguat sebagai klasemen partai papan atas, setara dengan PDIP, Gerindra, dan Golkar dengan perolehan survei 14,0 persen. Angka ini tentu akan membantu Anies mengakomodir segmen pemilih yang belum dijangkau Anies melalui mesin partai Demokrat dan sosok vote getter AHY.

Kedua, duet Anies-AHY sangat cocok merepresentasi figur muda. Tak bisa dipungkiri, populasi pemilih muda antara generasi milenial dan generasi Z sangat dominan. Tentu saja, preferensi politik mereka akan lebih peka pada figur muda yang dekat dengan psikologi mereka. AHY tentu
memenuhi kriteria itu.

Ketiga, Anies-AHY juga akan menyatukan background agamis-nasionalis. Anies, berdasarkan peta dukungan pada Pilkada DKI 2016 silam memiliki massa pemilih Islam yang begitu dominan. Dukungan kalangan agamis itu, tentu masih bertahan dan bertambah hingga kini, terutama pasca Prabowo masuk dalam kabinet Jokowi.

Kekecewaan massa Islam terhadap keputusan Prabowo beberapa tahun lalu akan berimplikasi politis pada surplus dukungan kepada Anies hari ini.

Karena itu, AHY dipandang mampu menjadi pendamping penyeimbang untuk meraup suara pada segmen pemilih rasional-nasionalis.

AHY bersama Partai Demokrat akan mempu menjaring basis elektoral baru yang hampir tak disentuh Anies.

Sementara, Aher bahkan tak muncul namanya dalam sejumlah survei.
Memang, dibanding AHY, Aher memiliki pengalaman jabatan eksekutif sebagai Gubernur, tetapi pemilih dan pendukung Aher masih terkarantina dan justru minus.

Meski demikian, ditengah ketidakpastian bangunan koalisi hari ini, kemungkinan apapun bisa saja terjadi. Tetapi, konsensus politik antar pengambil keputusan, utamanya ketiga partai itu, mesti segera dilakukan.

Memang, mengacu pada rencana jadwal yang diusulkan KPU, pendaftaran capres-cawapres baru akan digelar pertengahan September tahun depan, tetapi ketidakpastian pendamping Anies akan berpengaruh pada fluktuasi suara elektoralnya. Justru sinyal kepastian koalisi Nasdem, Demokrat, PKS dan tentu saja calon wakil Anies, akan menjadi peluang untuk lebih awal mengakomodir simpati dan dukungan pemilih. (frs)

  Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: