Hukum

Teroris Mantan Pelaku Bom Bali 1 Kembali Ditangkap Densus 88 di Depok

Depok, SINARTIMUR.com – Seorang teroris mantan pelaku Bom Bali 1 kembali ditangkap Tim Densus 88 di wilayah Depok, Jawa Barat, Jumat (10/9/2021) pagi.

Melansir pernyataan Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar dari Antara bahwa seorang terduga teroris anggota kelompok Jemaah Islamiyah (JI) kembali ditangkap di wilayah Depok.

Disebutkan Kombes Siregar, terduga teroris yang ditangkap tersebut berinisial AR, merupakan tokoh JI yang pernah ditangkap 15 tahun lalu karena menyembunyikan pelaku pengeboman malam Natal (2000) dan bom Bali (2002).

“AR yang dijemput di rumahnya di kawasan Depok. Terduga AR pernah ditangkap oleh kepolisian 15 tahun lalu,” ungkap Aswin dalam keterangan tertulisnya yang dilansir media ini dari Antara.

Kombes Siregar mengungkapkan bahwa pada tahun 2004, AR divonis 3,5 tahun penjara oleh pengadilan. AR adalah sosok yang dalam beberapa tahun belakangan sesekali tampil dalam pemberitaan dan media sosial.

Sebelumnya, sebut Kombes Siregar, Tim Densus telah menangkap tiga terduga teroris di wilayah Bekasi Utara, Jawa Barat dan Grogol, Jakarta Barat. Sehingga total terduga teroris yang ditangkap dalam kurun waktu satu hari ini ada empat orang di tiga lokasi berbeda, yakni Bekasi, Depok dan Jakarta Barat.

Disebutkannya, tiga teroris yang lebih dulu ditangkap berinisial MEK dan S alias MT, ditangkap pukul 05.30 WIB dan 06.00 WIB di wilayah Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Selanjutnya SH ditangkap di wilayah Grogol Petamburan, Jakarta Barat pukul 08.00 WIB. “Saat ini semua terduga masih dalam penyelidikan Densus 88,” ujar Kombes Siregar.

Dia menjelaskan, dalam penangkapan kali ini Tim Densus 88 menyasar pengurus teras JI selaku organisasi teror yang masih aktif di Indonesia. Setelah Juli lalu berhasil mengungkap sistem pendanaan kelompok JI dengan menangkap tersangka yang terlibat.

Ketiga terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Jumat ini merupakan jajaran pengurus pusat atau Markaziyah Jemaah Islamiyah (JI).

“Beberapa orang dari kelompok ini sepertinya memang tidak mengalami penjeraan, sebagian yang pernah ditangkap ternyata tidak menghentikan kegiatannya,” beber Kombes Siregar.

Diuraikan, terduga MEK terlibat dalam JI sebagai staf Qodiman Barat pada 2011 yang bertugas untuk mengurus personal dan non-struktural organisasi. Selain itu, MEK juga merupakan ketua Pengurus Perisai Nusantara Esa tahun 2017 dan Ketua Pembina Perisai tahun 2020. “Perisai merupakan sayap organisasi Jemaah Islamiyah dalam bidang advokasi,” urainya lagi.

Sedangkan terduga S alias MT adalah anggota fundraising Perisai pada tahun 2018, Pembina Perisai Nusantara Esa tahun 2020 dan anggota Tholiah Jabodetabek saat kepemimpinan Hari. Terduga lainnya yang ditangkap adalah SH, merupakan salah satu anggota Dewan Syuro Jemaah Islamiyah yang pernah mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina Selatan. SH diketahui pernah memberikan infak sebesar Rp40 juta pada tahun 2013-15 kepada Patria melalui Sholeh Habib yang telah tertangkap dalam operasi sebelumnya.

“Dalam penyelidikan terungkap bahwa SH juga merupakan anggota Pembina Perisai pada tahun 2017,” ungkap Kombes Siregar.

Kombes Siregar menjelaskan, Jamaah Islamiyah salah satu organisasi teror terlarang yang masih aktif bergerak di bawah permukaan. Belakangan ini kelompok JI terindikasi berusaha melakukan transformasi ke berbagai gerakan normatif, salah satunya pendidikan dan ranah politik.

Masih menurut laporan Antara, Kombes Siregar menegaskan bahwa Tim Densus 88 tidak pernah melonggarkan operasinya di berbagai daerah terkait jaringan teroris yang terus berusaha untuk melakukan berbagai persiapan aksinya. Upaya pencegahan dan penindakan terorisme akan makin kuat apabila didukung peran serta masyarakat untuk tidak memberikan ruang bagi pelaku-pelaku teror tinggal di wilayahnya. frs/*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: