Hukum

Tragedi Lovina Kelabu: Para Saksi Dikonfrontir di Polres Buleleng, Budi Hartawan Sayangkan Pernyataan Perbekel Kalibukbuk

Quotation:

Justru kepala desa memback-up pihak salah, korban ini tidak pernah didatangi oleh kepala desa, tidak pernah diajak berkomunikasi, tidak pernah dikawal ke Polres Buleleng untuk memberikan keterangan,” ucap Budi Hartawan, penasehatb hukum korban Ketut Bagia.

Singaraja, SINARTIMUR.com – Masih ingat tragedi Lovina Kelabu yang terjadi malam pergantian tahun 31 Desember 2023 lalu? Tragedi yang merusak citra pariwisata Buleleng itu terus dikembangkan penyidik Unit I Satreskrim Polres Buleleng, Bali. Selasa tanggal 22 Januari 2024, penyidik melakukan konfrontasi para saksi dari kubu tersangka dan saksi dari korban.

Usai konfrontasi para saksi, Budi Hartawan, SH, CHt, Ci, penasehat hukum korban Ketut Bagia, memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kantor B & S Law Office di Jalan Patimura No 8 Singaraja, Selasa 22 Janauri 2024 siang. “Telah dilakukan konfrontir para saksi di Unit 1 Satreskrim Polres Buleleng. Saksi dari pelaku ada dua yang berinisial G dan berinisial E. Kemudian Saksi dari korban berinisial D dan berinisial V. Mereka memberikan keterangan yang berbenda. Dari hasil pendampingan di konfrontir tadi kita baca bahwa saksi pelaku mengatakan bahwa tidak ada pengeroyokan dan tidak ada perkelahian, hanya ada cekcok,” jelas Budi Hartawan.

Bukan hanya itu, saksi pelaku juga menyatakan bahwa korban terjatuh karena terpeleset di trotoar bukan karena ditentang oleh pelaku. “Klien kami ini terjatuh disitu dalam keterangan dibilang terjatuh karena terpeleset, tersandung di trotoar. Sesungguhnya fakta di lapangan bahwa di situ tidak ada di trotoar, tetapi terjadi areal berjualan warungnya koran bersama anaknya. Dan jatuhnya korban akibat tendangan dan pengeroyokan, pemukulan, ditendang dulu orangnya jatuh kemudian dikeroyok,” ungkap Budi Hartawan membantah keterangan para saksi dari pelaku.

Pada bagian lagi, Budi Hartawan menyayangkan pernyataan Perbekel Desa Kalibukbuk dalam salah satu media yang menyatakan laporan korban Bagia di Polres Buleleng merupakan laporan rekayasa. “Kemudian terhadap pemberitaan yang disampaikan melalui salah satu media, disana menyebutkan Kepala Desa dalam berita itu menyebutkan bahwa ada rekayasa atau politisir terhadap kejadian itu. Kalau kita sikapi tentang politisir dan rekayasa benar ada, yang dilakukan oleh siapa, dilakukan oleh pelaku. Pelaku nelakukan rekayasa, politisir sejak sebelumnya terjadi kejadian itu sehingga memanfaatkan hari yang sangat bersejarah yaitu Tahun Baru bagi saudara kita umat Kristiani secara nasional itu dipergunakan sebagai ajang penyerangan saudara Bagia dengan keluarganya pada saat melaksanakan jualan di kawasan pariwisata Lovina,” ucap Budi Hartawan menyayangkan pernyataan Perbekel Kalibukbuk.

Budi Hartawan menegaskan bahwa aksi rekayasa dan politisi ala pelaku itu terlah mencoreng nama baik dan citra pariwisata Lovina. “Ini sebenarnya rekayasa dan politisir itu sudah mencoreng martabat pariwisata yang ada di Lovina itu sendiri. Kenapa saya katakan demikian, karena pelaku pariwisata itu sendiri melakukan pengeroyokan dan melakukan rekayasa murni di hari yang sangat bersejarah itu. Ini sebenarnya yang disampaikan kepala desa justru sebaliknya mereka yang melakukan rekayasa dan politisir itu sendiri,” papar Budi Hartawan dididampingi keliannya Ketut Bagia.

 

“Jadi, melalui hak jawab kami disini menegaskas bahwa korban tidak ada yang merekayasa. Korban bekerja dengan baik, kemudian melayani tamu bahkan beberapa tamu asing yang datang terimbas kena pukul, merasa ketakutan. Sekarang salah stau tamu asing siap menjadi saksi, karena melihat kronologis kejadian apa yang dilakukan pelaku,” urai Budi Hartawan lagi.

Budi Hartawan meminta Perbekel Kalibukbuk untuk bersikap netaral dalam kasus ini karena kedua pihak sama-sama warga Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Budi Hartawan meminta Perbekel Kalibukbuk untuk mengayomi semua warga tanpa memihak salah satu pihak dalam kasus ini.

“Sebagai aparatur pemerintah desa, semestinya berlaku adil dan bijak terhadap warga masyarakatnya. Apalagi dengan adanya korban seperti ini semestinya kepala desa maupun adat mendatangi kedua belah pihak diajak ngomong untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan ini, tidak selalu mendampingi pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum (pelaku, red). Sudah jelas-jelas pelaku ini melakukan perbuatan melawan hukum, menyerang dengan berencana dan menyebut ‘serbu’. Berarti sudah berencana melakukan perbuatan melawan hukum, kenapa ini diback-up oleh kepala desa. Justru kepala desa memback-up pihak salah, korban ini tidak pernah didatangi oleh kepala desa, tidak pernah diajak berkomunikasi, tidak pernah dikawal ke Polres Buleleng untuk memberikan keterangan,” beber Budi Hartawan sembari mengajak semua pihak untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan tersebut. Budi Hartawan juga mengungkapkan bahwa kliennya justru mendapat tekanan dari pejabat tertentu di desa itu

Sementara korban Ketut Bagia membantah kesaksian para saksi dari kubu pelaku bahwa saat itu tidak ada penganiayaan, hanya terjadi adu mulut. Korban Ketut Bagia menegaskan bahwa dia ditendang pelaku dari belakang dan jatuh ke tanah, bukan karena terpeleset sebagaimana diceritakan saksi dari pelaku. “Saya sempat ngomong sama dia, tapi setelah saya mau kembali ke warung, saya diserang dari belakang dan saya jatuh. Setelah saya jatuh, tangan saya dipegang, rambut saya dipegang dan kepala saya dibentur-bentukan (ke tanah, red) dan dari belakang ada penendangan dan pemukulan. Saya jatuh karena dipukul dan ditendang, bukan jatuh karena terpeleset. Ini murni pemukulan dan penendangan,” tutur korban Bagia.

Korban Bagia mengaku selama ini tidak ada pendekatan maupun upaya damai dari pelaku. Justru Desa Adat yang meminta korban Bagia untuk berdamai. Namun upaya damai yang ditawarkan Desa Adat Kalibukbuk itu ditolak korban dan meminta proses hukum kasus ini tetap berlanjut.

Pada kesempatan yang sama, saksi Ni Komang Vinariyanti, juga membantah keterangan saksi dari pelaku. Saksi Vinariyanti juga mengungkapkan bahwa dalam aksi penyerangan itu, anaknya berumur lima tahun pun turut menjadi korban aksi penyerangan dari para pelaku. “Saya mengetahui benar kejadian itu karena saya ada di dalamnya (warung lokasi kejadian, red) dan lagi mengendong anak saya. Bahkan anak saya yanh pertama menjadi korban karena terinjak-injak oleh beberapa orang, bahkan suami saya juga kena pukul, padahal suami saya tujuan untuk melerai. Dari segi psikis, saya masih trauma. Dari pihak sana bilang hanya ngobrol-ngobrol katanya, padahal dari video dan saksi-saksi yang menyaksikan bahwa disana adanya keributan. Dan saya pun punya cuplikan video bahwa disana memang ada keributan, pengeroyokan, pemukulan. Kami bisa pastikan bahwa itu bukan hanya cekcok atau ngobrol-ngobrol,” beber Vinariyanti.

Saksi Vinariyanti mengingatkan jangan sampai ada korban meninggal dunia seperti kasus di Denpasar pekan lalu itu baru dianggap pengeroyokan. “Jangan setelah ada korban seperti di Denpasar itu baru dianggap pengeroyokan. Ini kita sudah tidak adil ini. Saya sangat menyayangkan statement dari Kepala Desa yang bilang itu rekayasa padahal beliau sendiri tidak ada di tempat saat kejadian. Kami binggung jadianya. Sebagai kepala desa mestinya adil dan mengayomi semuanya,” kritik Vinariyanti.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

  Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button