Pengalaman Pilu Korban Banjir di Tapanuli Tengah
Banjir yang melanda wilayah Tapanuli Tengah beberapa waktu lalu meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat, termasuk Misriani Lubis. Kondisi krisis air bersih dan kehidupan yang terganggu menjadi tantangan besar bagi keluarganya.
Kehidupan yang Terhancur
Misriani tinggal di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badirik, Kabupaten Tapanuli Tengah. Rumahnya yang terbuat dari papan kayu hancur akibat banjir bandang yang membawa kayu-kayu gelondongan. Hancurnya rumah membuat keluarganya harus mencari tempat tinggal sementara.
Sementara itu, usaha keluarga yang berada di sebelah rumah juga tertimbun lumpur. Keadaan ini memperparah kesulitan hidup mereka.
Peristiwa Mengerikan
Peristiwa mengerikan terjadi pada 25 November lalu. Saat hujan deras mengguyur, Misriani bersama suaminya yang lumpuh dan anak lelakinya sedang berkumpul di dalam rumah makan. Tiba-tiba, air berisi kayu gelondongan datang dengan cepat. Mereka panik dan berusaha menyelamatkan diri.
Suami Misriani tidak bisa bergerak karena lumpuh. Dengan kondisi darurat, mereka berdua mendorong kursi roda ke bagian belakang rumah. Anak lelakinya naik ke atas bak penampung air terlebih dahulu, kemudian Misriani mengangkat suaminya dan menyerahkan kepada anaknya yang menunggu di atas.
Setelah suaminya berhasil naik, barulah Misriani juga naik untuk menyelamatkan diri. Mereka bertahan di kegelapan selama 6 jam, hingga akhirnya dibantu oleh warga lainnya.
Kekurangan Air Bersih
Selama 10 hari pasca-bencana, Misriani dan keluarganya belum menerima bantuan air bersih. Untuk bertahan hidup, mereka menampung air hujan, lalu memasaknya menggunakan kayu bakar, dan minum. Hal ini dilakukan sejak hari pertama bencana.
Tidak hanya minum, tetapi untuk makan pun mereka masih kesusahan. Mereka bergantung pada bantuan dari pemerintah, berupa dapur umum. Namun, makan hanya dua kali sehari, yaitu sekitar pukul 10:00 WIB dan 18:00 WIB. Lauk terkadang hanya mie instan atau nasi putih.
Permintaan Bantuan
Misriani mengaku tidak berharap banyak kepada pemerintah. Ia hanya meminta bantuan sembako untuk bertahan hidup, alat berat untuk menyingkirkan lumpur yang mengeras, dan air bersih. “Kami membutuhkan air bersih kemudian bahan pokok makanan. Makan mie terus rasanya sudah Indomie sudah bosan,” ujarnya.
Kondisi Wilayah Masih Memprihatinkan
Kondisi Tapanuli Tengah masih dalam proses perbaikan. Jalanan masih tertimbun lumpur, dan lumpur setinggi 1 meter lebih di sepanjang jalan masih bertahan. Hal ini menyulitkan akses transportasi dan distribusi bantuan.
Warga seperti Misriani merasa kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka membutuhkan bantuan yang lebih cepat dan efektif agar dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Harapan untuk Pemulihan
Meskipun dalam kondisi sulit, Misriani dan keluarganya tetap berusaha bertahan. Mereka percaya bahwa dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, kondisi akan segera membaik. Namun, sampai saat ini, harapan tersebut belum terwujud sepenuhnya.





