Beranda / Berita / Masih Ingat Tatapan Terakhirnya: Duka dan Ketegaran Istri Korban Kebakaran Terra Drone di Bogor

Masih Ingat Tatapan Terakhirnya: Duka dan Ketegaran Istri Korban Kebakaran Terra Drone di Bogor

Perjalanan Duka Keluarga Korban Kebakaran

Di Desa Cibinong, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, suasana terasa berat pada Rabu (10/12/2025) siang. Rumah sederhana yang biasanya ramai dengan kehidupan sehari-hari kini menjadi tempat berkumpulnya para pelayat. Mereka datang satu per satu untuk memberikan doa dan dukungan bagi keluarga korban tewas dalam kebakaran hebat di kantor Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang terjadi sehari sebelumnya.

Di tengah suara tahlil yang rendah dan tangisan yang terdengar, Ira, sang istri, berusaha menjadi penopang keluarga. Dengan baju dan hijab berwarna hijau, ia mencoba menunjukkan keteguhan meskipun wajahnya tampak lelah. Setiap pelayat yang datang disambut dengan senyum lemah dan jabatan tangan hangat. Namun, di balik ketegarannya, mata yang sembap dan suara yang sesekali tercekat mengungkapkan luka yang masih sangat perih.

“Ira belum kuat untuk berbicara,” ujarnya saat ditemui di Gunung Sindur, Rabu (10/12/2025), sambil mengusap air mata. “Maaf, terima kasih sudah datang,” tambahnya sebelum kembali melanjutkan tugasnya sebagai tuan rumah di tengah duka yang menyelimuti.

Kabar meninggalnya Apriyana, warga yang telah menetap di lingkungan RT 05/RW 15 sejak 2017, awalnya simpang siur. Suhardi, Ketua RT setempat, menceritakan bahwa informasi pertama diterima Selasa siang pukul 15.00 WIB. Namun, kepastian baru datang tengah malam setelah rumah sakit menyelesaikan verifikasi identitas korban.

“Kepastian baru diterima sekitar pukul 00.00 malam, setelah pihak rumah sakit menyatakan identitas korban telah terverifikasi,” jelas Suhardi. Proses kepulangan sang suami pun tidak mudah. Jenazah sempat berada dalam kewenangan Pemprov DKI Jakarta dan RS Polri. Keluarga baru bisa menjemputnya Rabu siang pukul 14.00 WIB.

Kepergiannya begitu cepat. Setibanya di rumah duka, jenazah Apriyana hanya sempat disemayamkan sekitar 10 menit singkat untuk diperlihatkan kepada istri, kedua anaknya (satu laki-laki dan satu perempuan), serta orang tuanya. “Keluarga inti sempat melihat untuk terakhir kalinya. Hanya sebentar, tapi mungkin itu momen yang paling mengharukan,” ujar Suhardi.

Jenazah kemudian dishalatkan di masjid setempat sebelum dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Cibinong, Rabu sore selepas Salat Ashar. Sebuah tenda hijau di halaman rumah dan kursi-kursi merah untuk pelayat menjadi saksi bisu duka mendalam keluarga ini.

Apriyana, yang dikenal sebagai pekerja yang kerap bepergian keluar kota, kini telah pergi untuk selamanya. Ia meninggalkan Ira untuk membesarkan dua buah hati mereka, mengukir kenangan dari seorang suami dan ayah yang tak lagi bisa pulang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *