Beranda / Berita / Rugi 355 Juta! Persebaya Lebih Sering Dihukum Daripada Menang

Rugi 355 Juta! Persebaya Lebih Sering Dihukum Daripada Menang

Persebaya Surabaya: Kekalahan dan Denda yang Menghancurkan Performa



Persebaya Surabaya, klub kebanggaan Bonek, menghadapi situasi yang sangat menantang di Super League musim ini. Dari 13 laga yang telah dimainkan, mereka hanya meraih empat kemenangan dan menderita kerugian finansial sebesar Rp 355 juta akibat denda dari Komite Disiplin PSSI (Komdis PSSI). Angka ini membuat Persebaya menjadi tim dengan pengeluaran denda terbanyak kedua setelah PSM Makassar.

Kondisi ini menjadi ironi karena Persebaya awalnya tidak termasuk dalam daftar klub yang sering mendapat hukuman. Namun, rangkaian insiden dalam beberapa pertandingan membuat nominal denda mereka terus meningkat. Bahkan, posisi Persebaya Surabaya kini melampaui Persik Kediri yang sebelumnya berada di urutan kedua dengan denda sebesar Rp 260 juta.

Pekan ke-13 menjadi titik paling merugikan bagi Persebaya Surabaya setelah pertandingan melawan Arema FC pada 22 November 2025. Laga panas tersebut memicu berbagai pelanggaran, seperti penyalaan petasan, pelemparan botol air minum dari Tribun Barat, dan aksi suporter yang masuk ke pinggir lapangan. Komdis PSSI menganggap hal ini sebagai gagal menjaga ketertiban pertandingan, sehingga denda pun terus menumpuk.

Panitia pelaksana Persebaya Surabaya juga mendapat denda tambahan sebesar Rp 40 juta karena dinilai tidak mampu mengendalikan situasi hingga terjadi kerusuhan. Di tengah tekanan dan kritik, data Komdis PSSI menunjukkan betapa timpangnya performa dan pengeluaran denda Persebaya Surabaya sepanjang musim.

Dari 13 pertandingan, tim asuhan pelatih hanya menang empat kali dan masih memiliki satu laga tunda yang belum dimainkan. Kondisi ini menyulitkan Persebaya Surabaya yang berupaya keluar dari tekanan suporter serta meningkatkan konsistensi di lapangan. Alih-alih bangkit lewat prestasi, pengeluaran mereka justru terkuras oleh hukuman kedisiplinan yang terus datang dari pekan ke pekan.

Di sisi lain, daftar total denda Super League sejak pekan pertama menunjukkan persaingan lain di luar klasemen liga. PSM Makassar menjadi klub dengan denda terbesar mencapai Rp 420 juta, disusul Persebaya Surabaya dengan Rp 355 juta dan Persik Kediri dengan Rp 260 juta. Arema FC berada dekat dengan Persik melalui total denda Rp 255 juta yang membuat mereka konsisten di papan atas daftar pelanggaran.

Persijap Jepara menempati posisi berikutnya dengan Rp 205 juta, diikuti Bhayangkara FC yang mengumpulkan Rp 195 juta. Persija Jakarta juga masuk daftar klub dengan denda tinggi setelah menghabiskan Rp 190 juta. Persib Bandung menyusul lewat catatan Rp 185 juta yang didapat dari berbagai kejadian disiplin sejak pekan pertama. Madura United berada di angka Rp 180 juta yang menunjukkan masih tingginya pelanggaran disiplin di musim ini.

Malut United menjadi salah satu yang cukup mengejutkan melalui total Rp 155 juta, diikuti Persis Solo yang mengeluarkan Rp 105 juta. Dewa United tercatat harus membayar Rp 100 juta sementara Bali United dan Persita Tangerang sama-sama berada di angka Rp 80 juta. PSIM Yogyakarta mengoleksi Rp 75 juta, sedikit di atas Semen Padang yang baru “pecah telur” dengan denda perdana Rp 70 juta.

Borneo FC justru menjadi salah satu klub yang paling rapi dalam urusan disiplin dengan hanya Rp 50 juta sejak awal musim. PSBS Biak bahkan menjadi satu-satunya klub yang tidak menerima denda sama sekali hingga pekan ke-13.

Situasi Persebaya Surabaya menjadi sorotan karena jumlah denda mereka tidak sebanding dengan performa di liga. Publik menilai klub seharusnya mampu mengelola pertandingan dengan lebih aman agar tidak terus terbebani hukuman yang merugikan secara finansial. Kekalahan, inkonsistensi, dan tekanan mental musim ini membuat Persebaya Surabaya sulit keluar dari bayang-bayang krisis.

Kondisi semakin rumit lantaran aspek nonteknis seperti perilaku suporter dan kelalaian panitia juga ikut memicu nominal denda. Pada titik ini, Persebaya Surabaya berada dalam situasi pelik antara mengejar prestasi dan menahan laju pembengkakan denda. Setiap pelanggaran yang terjadi semakin menjauhkan mereka dari fokus membangun momentum positif di lapangan.

Manajemen Persebaya Surabaya dituntut segera melakukan pembenahan menyeluruh agar tim bisa kembali kompetitif. Penegakan aturan internal dan edukasi suporter diperlukan agar kejadian yang memicu denda tidak terulang. Musim masih panjang namun kerugian finansial sebesar Rp 355 juta menjadi alarm keras bagi Persebaya Surabaya. Performa harus naik dan pelanggaran harus ditekan jika mereka tidak ingin menghabiskan musim dengan catatan lebih banyak hukuman daripada kemenangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *