Beranda / Berita / Profil dan Kekayaan Letjen Widi Diperiksa dalam Kasus Pencucian Uang

Profil dan Kekayaan Letjen Widi Diperiksa dalam Kasus Pencucian Uang

Letjen TNI Widi Prasetijono: Profil Lengkap dan Keterkaitan dengan Kasus TPPU

Letjen TNI Widi Prasetijono kembali menjadi sorotan publik setelah dilakukan mutasi oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Mantan ajudan Presiden Joko Widodo itu kini menjabat sebagai Staf Khusus KSAD, setelah sebelumnya bertugas sebagai dosen di Universitas Pertahanan (Unhan). Namun, di balik rotasi jabatan tersebut, perhatian publik tertuju pada fakta bahwa Widi sempat diperiksa Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah terkait dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus jual beli lahan milik BUMD.

Mutasi di Tengah Sorotan Kasus TPPU

Mutasi Letjen Widi Prasetijono terjadi di tengah sorotan publik terkait pemeriksaan dirinya oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Kejati Jateng). Ia dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berkaitan dengan perkara korupsi jual beli lahan milik BUMD PT Cilacap Segara Artha (CSA).

Kepala Kejati Jawa Tengah, Siswanto, membenarkan bahwa Letjen Widi telah dipanggil untuk kedua kalinya guna dimintai keterangan sebagai saksi. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendalami kemungkinan aliran dana dan indikasi pencucian uang dalam kasus jual beli lahan bermasalah tersebut.

“Pemanggilan dilakukan untuk mengulik informasi dugaan TPPU. Ini bagian dari pengembangan perkara,” ujar Siswanto di Semarang, awal Desember 2025 lalu. Dalam pengembangan kasus, nama Novita Permatasari, istri Letjen Widi Prasetijono, juga turut disebut. Namun Kejati Jateng belum memastikan apakah pasangan suami istri tersebut diperiksa secara bersamaan.

“Istrinya masih dalam proses persidangan sebagai saksi, jadi belum bisa dipastikan apakah diperiksa di waktu yang sama,” jelas Siswanto.

Profil Singkat Letjen Widi Prasetijono

Letjen TNI Widi Prasetijono lahir di Trenggalek, Jawa Timur, pada 4 Juni 1971. Ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1993 dan mengawali karier militernya di kesatuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Sepanjang karier militernya, Widi dikenal sebagai perwira lapangan dengan rekam jejak panjang di satuan tempur.

Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Danunit hingga Dantim di Grup 2 Kopassus, Kepala Seksi Logistik di Grup 1 Kopassus, hingga Komandan Batalyon Infanteri Raider 400. Namanya mulai dikenal luas ketika dipercaya menjadi Komandan Distrik Militer (Dandim) 0735/Surakarta pada 2011. Saat itu, Joko Widodo masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Hubungan keduanya terus berlanjut hingga Jokowi terpilih menjadi Presiden pada 2014. Widi kemudian dipercaya menjadi ajudan Presiden RI saat masih berpangkat kolonel. Setelah masa tugas tersebut, kariernya terus menanjak dengan penugasan sebagai Danrem, Kasdam, hingga Komandan Jenderal Kopassus. Pada 2023, Widi mencapai puncak karier militernya dengan menyandang pangkat Letnan Jenderal dan dilantik sebagai Komandan Kodiklat TNI Angkatan Darat (Dankodiklatad).

Jabatan ini memegang peran strategis dalam pembinaan doktrin, pendidikan, dan latihan prajurit TNI AD. Setahun kemudian, ia dimutasi menjadi dosen di Universitas Pertahanan sebelum akhirnya kembali dimutasi sebagai Staf Khusus KSAD pada akhir 2025.

Pengalaman Operasi dan Penugasan Internasional

Selain jabatan struktural, Letjen Widi juga tercatat pernah terlibat dalam sejumlah operasi militer penting, di antaranya Operasi Seroja di Timor Timur serta operasi pemulihan keamanan di Papua. Ia juga kerap dipercaya mengikuti penugasan dan kerja sama militer di berbagai negara, seperti Singapura, China, Myanmar, Australia, Malaysia, Turki, dan Amerika Serikat.

Harta Kekayaan Rp 16,4 Miliar

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Februari 2024, Letjen Widi Prasetijono memiliki total kekayaan sebesar Rp 16,48 miliar. Aset terbesar berupa tanah dan bangunan senilai Rp 13,7 miliar yang tersebar di Semarang, Boyolali, Surakarta, dan Tangerang Selatan. Ia juga memiliki tiga unit mobil, termasuk Toyota Alphard senilai Rp 900 juta, serta kas dan setara kas sebesar Rp 1,18 miliar. Dalam laporan tersebut, Widi tercatat tidak memiliki utang.

Kasus Pencucian Uang Jual Beli Lahan

Kasus yang diduga menyeret Letjen Widi ini bermula saat jual beli tanah 700 hektare seharga Rp 237 miliar. Pihak pembelinya adalah PT Cilacap Segara Artha selaku BUMD Pemkab Cilacap, sedangkan penjualnya PT Rumpun Sari Antan. PT Cilacap Segara Artha membayar lunas untuk mendapatkan tanah berstatus hak guna usaha (HGU). Usai membayar, ternyata tanah tersebut tidak bisa diserahkan karena ternyata di bawah kuasa Kodam IV/Diponegoro.

Kasus ini kemudian didalami Kejati Jateng dengan hasil 3 orang sudah diadili, mereka adalah:
* Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap, Awaluddin Muuri
* Mantan Komisaris PT Cilacap Segara Artha, Iskandar Zulkarnain
* Mantan Direktur PT Rumpun Sari Antan, Andhi Nur Huda.

Pedalaman kasus terus dilakukan hingga muncul nama praktisi pengobatan tradisional Ahmad Yazid (AY) alias Gus Yazid Basayban. Ia diduga menerima uang Rp20 miliar dari kerabat Letjen Widi Prasetijono. Pada Rabu (24/12/2025) kemarin, Kejati Jateng menetapkan Gus Yazid sebagai tersangka dan resmi menahannya.

Mutasi dan Prinsip Presumption of Innocence

Hingga kini, TNI menegaskan bahwa mutasi Letjen Widi Prasetijono merupakan bagian dari mekanisme rutin organisasi dan tidak berkaitan langsung dengan proses hukum yang sedang berjalan. Prinsip praduga tak bersalah tetap dikedepankan selama belum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap. Mutasi besar-besaran ini sekaligus menunjukkan dinamika regenerasi dan penyegaran di tubuh TNI, seiring tuntutan profesionalisme dan adaptasi terhadap tantangan strategis ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *