Sejarah Pertempuran Iwo Jima dalam Perang Dunia II
Pertempuran Iwo Jima adalah salah satu konflik paling berdarah dan penuh perjuangan dalam sejarah Perang Dunia II. Meskipun pasukan Amerika Serikat harus menghadapi tantangan yang sangat berat, mereka akhirnya berhasil menguasai pulau ini setelah melalui pertempuran yang sangat sengit.
Persiapan untuk Pendaratan
Sebelum operasi pendaratan dimulai, selama 74 hari berturut-turut, pesawat pembom B-29 dan B-24 dari Kepulauan Mariana serta pesawat kapal induk terus menerus melakukan serangan udara terhadap Iwo Jima. Pemboman ini diperhebat lagi dengan tembakan dan meriam dari kapal-kapal perang Amerika menjelang hari pendaratan. Namun, meskipun ribuan ton bom jatuh ke pulau ini, efeknya tidak begitu besar bagi 21.000 pasukan Jepang yang berada di sana.
Strategi Pertahanan Jepang
Kemampuan strategis Letnan Tadamichi Kuribayashi, panglima pasukan Jepang di Iwo Jima, memungkinkan pasukannya tetap aman dalam kubu-kubu bawah tanah yang lengkap dengan cadangan makanan, air, dan amunisi. Kuribayashi memilih untuk tidak bertahan di pantai dan melarang pasukannya melakukan serangan banzai atau serangan berani mati.
Pertempuran Berdarah
Pada 19 Februari, pasukan marinir Amerika mendarat di pantai Iwo Jima yang tampaknya tidak dipertahankan. Namun, saat mereka mencoba maju, mereka langsung menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Jepang. Misalnya, pasukan dari Divisi ke-5 gagal mencapai kaki Gunung Suribachi karena perlawanan yang kuat. Di utara, pasukan dari Divisi ke-4 juga menghadapi kesulitan.
Dalam sebuah peristiwa, 16 tank Sherman yang maju menyerang berhadapan dengan pasukan anti-tank yang dipimpin Kapten Masao Hayauchi. Pertempuran berlangsung sengit hingga pasukan Jepang kehilangan semua senjata anti-tanknya. Akhirnya, Hayauchi meledakkan dirinya pada sebuah tank untuk menghentikan serangan.
Kesuksesan dan Korban
Batalyon-25 dari Divisi ke-5 Marinir akhirnya berhasil menerobos pertahanan Jepang, namun dengan biaya yang sangat tinggi: 550 dari 700 personelnya menjadi korban. Petang hari, pasukan marinir akhirnya berhasil sampai ke kaki Suribachi setelah bertempur mati-matian. Esok harinya, mereka mulai membakar lubang-lubang Jepang dengan drum-drum bensin.
Akhir dari Perlawanan Jepang
Pada hari ketiga, hanya sekitar 300 prajurit Jepang tersisa di dalam gunung dan tidak mungkin mempertahankannya lagi. Mereka mencoba melapor kejatuhan Suribachi kepada Jenderal Kuribayashi, namun kapten AL Samaji Inouye marah besar dan menganggap mereka pengecut. Dia bahkan siap memancung letnan yang berlutut, tetapi anak buahnya merebut pedang itu dan membuat Inouye menangis.
Pengibaran Bendera AS
Pada hari keempat invasi, Letkol Chandler Johnson memerintahkan bendera AS dikibarkan di puncak Suribachi. Dua prajurit Jepang yang masih bersembunyi di gua kawah keluar menyerang, tetapi mereka terbunuh sebelum sempat beraksi. Johnson kemudian memerintahkan penggantian bendera dengan yang lebih besar.
Kisah Heroik dan Korban
Berbagai kisah heroik muncul dari pertempuran ini, termasuk 27 medali penghargaan tertinggi AS, Medal of Honor. Salah satunya adalah Prajurit Douglas Jacobson yang mengamuk karena rekannya tewas. Dia menggunakan bazoka rekannya dan menghancurkan sejumlah kubu Jepang, menewaskan 75 tentara Jepang.
Di pihak Jepang, Kapten Inouye yang menangisi Suribachi melakukan serangan banzai yang gagal. Ditemukan 784 mayat tentara Jepang yang berserakan. Inouye sendiri terakhir terlihat sedang memimpin serangan tersebut.
Penutup
Hari ke-23 invasi, Kuribayashi mendengarkan Radio Tokyo yang menyiarkan lagu pertahanan Iwo yang pernah diciptakan oleh anak buahnya. Hari ke-26, Mayjen Erskine menghimbau Kuribayashi untuk menyerah, tetapi tidak ada jawaban. Tubuh Kuribayashi tidak pernah ditemukan, namun anak buahnya yakin dia terluka berat lalu bunuh diri.
Hari ke-35, 26 Maret 1945, usailah invasi Iwo Jima yang semula diperkirakan akan rampung dalam 10 hari. Sekitar 19.000 pasukan Jepang dan 6.821 marinir Amerika tewas di pulau ini. Bagi Korps Marinir AS, ini adalah korban terbesar dan terburuk yang pernah dialami sepanjang sejarah peperangan.





