Beranda / Berita / Harga Hijau vs Taksi Konvensional: Persaingan Tidak Sehat?

Harga Hijau vs Taksi Konvensional: Persaingan Tidak Sehat?



JAKARTA, sinartimur.com/ – Taksi merek Green SM, yang sebelumnya dikenal dengan nama Xanh SM, kini telah beroperasi beberapa waktu di Jakarta. Jumlah kendaraannya semakin meningkat dan mulai menyebar ke wilayah Jabodetabek. Keberadaan taksi listrik asal Vietnam ini memberikan alternatif transportasi umum bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan persaingan yang dinilai tidak sehat dalam industri angkutan umum.

Agus Pambagio, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan pengamat kebijakan publik, menyatakan bahwa persaingan usaha yang tidak seimbang akan merugikan perusahaan taksi yang sudah ada sebelumnya. Ia menilai, situasi ini menciptakan iklim usaha yang tidak sehat, yang akhirnya berdampak negatif terhadap ekosistem transportasi nasional serta perekonomian negara.

Menurut Agus, taksi Green SM menggunakan mobil merek VinFast dari Vietnam. VinFast adalah perusahaan asing yang melakukan impor 100 persen dalam bentuk CBU (Completely Built Up). Sementara itu, pemerintah sedang giat mempromosikan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai bagian dari upaya untuk mendukung industri lokal.

“Pemerintah saat ini memberikan insentif fiskal untuk kendaraan listrik. Oleh karena itu, perlu dievaluasi apakah mobil VinFast yang digunakan oleh Green SM juga mendapatkan insentif tersebut,” ujar Agus saat menghadiri acara diskusi bersama Instran, Selasa (16/12/2025).

Agus menambahkan, jika Green SM memang mendapatkan insentif fiskal, maka perusahaan tersebut dianggap memiliki keuntungan lebih besar sebelum bertanding. Hal ini dikarenakan mereka tidak hanya memperoleh insentif untuk kendaraan listrik, tetapi juga bebas dari kewajiban TKDN nol persen.

Namun, jika perizinan taksi ini tidak mencakup insentif fiskal maupun regulasi TKDN kendaraan, maka bisa disimpulkan bahwa terdapat celah regulasi yang menyebabkan ketidakadilan dalam persaingan industri taksi di Indonesia.

Persoalan Regulasi dan Keadilan Persaingan

Beberapa isu penting muncul dalam konteks ini, antara lain:

  • Regulasi yang tidak sejalan: Ada kemungkinan regulasi yang berlaku tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendukung industri dalam negeri. Hal ini dapat menciptakan ketidakadilan antara perusahaan asing dan lokal.
  • Insentif yang tidak transparan: Jika insentif fiskal diberikan tanpa transparansi, maka akan sulit untuk menilai apakah semua pemain di pasar taksi mendapatkan kesempatan yang sama.
  • Kepentingan ekonomi nasional: Perlu adanya evaluasi apakah kehadiran perusahaan asing seperti Green SM benar-benar bermanfaat bagi ekonomi nasional atau justru merugikan industri lokal.

Tantangan dan Peluang di Sektor Transportasi

Dengan berkembangnya transportasi berbasis listrik, baik dari perusahaan lokal maupun asing, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan industri dalam negeri. Di satu sisi, penggunaan kendaraan listrik dapat membantu mengurangi polusi udara dan meningkatkan efisiensi transportasi. Di sisi lain, kehadiran perusahaan asing yang didukung insentif fiskal dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan lokal.

Perlu adanya kebijakan yang lebih inklusif dan adil, sehingga seluruh pemain di sektor transportasi dapat bersaing secara sehat dan saling mendukung. Hal ini juga penting untuk menjaga stabilitas ekosistem transportasi nasional dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *